EMBUN TAUSHIYAH - Ahad, 17 Juni 2001
Ikhlas berarti membersihkan tujuan beribadah kepadaAllah SWT dari segala noda yang mengotorinya,
memfokuskan ibadah hanya kepada Allah SWT dan bahkanbisa juga berarti tidak memperhatikan alam sekitar
karena yang ada di matanya hanyalah Allah SWT semata.
Ikhlas adalah syarat diterimanya amal shalih yang berlandaskan sunnah Rasulillah saw. Allah memerintahkan kita untuk selalu ikhlas dalam beramal, firmanNya :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya
dalam[menjalankan] agama yang lurus[QS. 98:5].
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Umamah ra. disebutkan ada seorang sahabat mendatangi
Rasulullah dan bertanya : “apa yang akan diperoleh oleh seseorang yang berjuang karena ingin mendapatkan
imbalan dan popularitas ?” Beliau menjawab : “dia tidak akan mendapatkan apa pun”, lalu orang itu
mengulangi pertanyaannya tesebut sampai tiga kali dan Rasulullah tetap menjawab dengan jawaban yang sama,
kemudian bersabda : “Allah hanya menerima amal yang disertai dengan keikhlasan dan karena ingin mencari
ridhaNya”.[Hr. Abu Daud da Nasa’i dengan sanad hasan].
Dalam hadis lain diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah bersabda ketika haji wada’ :
“semoga Allah menyinari seseorang yang mendengarkan sabdaku ini dan menghafalnya, karena berapa banyak
pembawa ilmu yang ia sendiri tidak mengerti, ada tiga perkara yang tidak akan dikhianati oleh hati seorang
mukmin : ikhlas beramal karena Allah, saling menasihati di antara pemimpin kaum muslimin dan tetap
berada dalam jamaah mereka.” [Hr. al-Bazzar dengan sanad hasan dan Ibn Hibban].
Maksudnya, ketiga perkara ini dapat memperbaiki hati seorang mukmin, karena barang siapa memiliki ketiganya, maka hatinya akan bersih dari penyakit khianat, perusak dan sifat jahat.
Yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari godaan setan hanyalah sifat ikhlas, sebagaimana firman Allah SWT. :
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka, [QS. 38:83].
Diriwayatkan bahwa ada seorang yang shalih pernah berkata pada dirinya sendiri :” wahai jiwa, ikhlaslah, niscaya kamu akan selamat.”
Segala kenikmatan dunia, sedikit ataupun banyak, akan dirasakan oleh jiwa manusia dan hatinya akan condong kepadanya. Jika perasaan ini muncul ketika beramal, maka hati yang jernih akan tercemar dan keikhlasan akan sirna. Manusia selalu diliputi oleh hasratnya, sedikit sekali perbuatan ataupun ibadahnya yang terbebas dari tujuan-tujuan sesaat ini. Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa barang siapa yang menyempatkan sedikit saja dari umurnya
untuk ikhlas kepada Allah, maka ia akan selamat. Ini semua karena kemuliaan ikhlas dan sulitnya membersihkan hati dari noda-noda. Jadi, ikhlas adalah membersihkan hati dari segala noda, sedikit ataupun banyak, sampai ia dapat mengosongkan tujuan beribadah dan pembangkit hatinya hanya kepada Allah. Ini semua tidak dapat ditemukan kecuali pada diri orang yang cinta kepada Allah yang semua kepentinganya hanyalah untuk akhirat dan tidak ada tempat dalam hatinya untuk mencintai dunia. Sebagai contoh ketika ia makan, minum atau pun memenuhi hajatnya, maka semua itu
dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan niat yang benar. Barang siapa tidak memiliki sifat-sifat di atas
maka pintu ikhlas tetutup baginya, kecuali hanya beberapa gelintir orang saja.
Barang siapa cinta kepada Allah dan khirat maka gerakan refleknya hanya untuk mencarinya dan ikhlas karenaNya. Lain halnya dengan orang yang selalu memikirkan dunia, kedudukan, tampuk pimpinan, dan segala yang selain Allah, maka semua gerakannya hanya akan tertuju padanya, sehingga ibadah yang dilakukannya, baik itu berupa puasa, shalat dan
lainnya tidak akan lepas darinya, kecuali hanya sedikit saja.
Cara melatih keikhlasan adalah dengan menghilangkan memikirkan keinginan hatinya, tidak tamak pada dunia, dan hanya memikirkan akhirat dengan jalan menguasai hatinya hanya untuknya. Cara-cara ini dapat memudahkan kita untuk ikhlas. Berapa banyak orang yang berusah payah dalam beramal dan ia menyangka bahwa itu semua dilakukannya dengan penuh
keikhlasan karena Allah, akan tetapi sayang, ia termasuk orang-orang yang tertipu, karena ia tidak memperhatikan hal-hal yang merusaknya.
Dikisahkan bahwa ada seseorang yang selalu shalat di barisan pertama. Pernah pada suatu hari ia terlambat, sehigga ia shalat pada barisan kedua, maka ia merasa malu kepada orang-orang di sekitarnya yang melihatnya berada di barisan kedua. Dari sini dapat diketahui bahwa ia akan merasa senang dan tenang hatinya ketika ia shalat di barisan pertama karena ingin dilihat oleh orang lain. Ini adalah hal yangrumit dan pelik, sedikit sekali amal perbuatan yang
selamat darinya, dan sedikit sekali orang yang menyadariya, kecuali orang yang diberikan taufik oleh Allah SWT. Dan orang-orang yang tidak memperhatikan hal ini kelak di hari kiamat akan menjumpai amal kebaikannya berubah menjadi amal kejahatan. Orang-orang inilah yang disindir dalam firmanNya :
Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan, Dan [jelaslah] bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat. [QS. 39:47-48].
Dan firmanNya : Katakanlah:'Apakah akan Kami beritahukan kepadamu
tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya'
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [QS. 18:103-104].
Created by: Alfak Khusaery
Ketua Umum JMMI
Ikhlas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar